Donny Philli
“OH… Mariam Tomboy Mak
Inang, Si Japang Mati…, Oh… Mariam Tomboy Mak Inang, Si Japang Mati… Oh… Mariam
Tomboy Mak Inang, Si Japang Mati…” Dengan semangat, anak-anak Kampung Aur
menyanyikan lagu plesetan yang nadanya diambil dari film Naga Bonar, dibawah
Jembatan HVA Jalan Letjend Soeprapto, di pinggir Sungai Deli, Kampung Aur.
Meskipun nadanya lagu naga bonar, namun liriknya diubah-ubah. Lagu
ini selalu terdengar tatkala memasuki awal Bulan Suci Ramadhan, saat umat Islam
menjalankan ibadah puasa, dan saat aku berusia 12 tahun.
Di bawah kolong jembatan HVA, Kampung Aur itu, aku dan sejumlah
kawan-kawan dengan semangat memotong sebatang bambu, yang tumbuh tepat dibibir
Sungai Deli. Semak-semak dan timbunan sampah tak menjadi penghalang, meskipun
miang bambu sudah melekat ditubuh kami yang mulai gatal-gatal.
“Win…! Cepatlah kau potong
bambunya, lama kali pun,” desak Rustam yang sudah menggaruk-garukkan kakinya
yang gatal, kepada temanku Iwin yang sedang menebas batang bambu dengan parang,
sedangkan aku memegang batang bambu itu, sambil memejamkan mata karena telah
kemasukkan miang bambu.
“Byurr…!?” aku terjun ke
sungai bersamaan batang bambu yang sudah lepas dari akarnya untuk dibersihkan
miangnya. Kawan yang lain ikut juga menceburkan diri untuk menghilangkan
gatal-gatal dibadan yang sudah memerah.
Setiap ruasnya dijebol kecuali ruas yang terakhir, karena ruas
yang terakhir ini berguna untuk menampung minyak tanah. Di sekitar buntut bambu
di lubangi agar minyak tanah bisa masuk dan bisa digunakan sebagai pemicu
letupan.
Ketika bambu sudah selesai jadi meriam, beberapa anak-anak mulai
memikulnya dan mencari posisi yang pas untuk penempatan meriam. Sore pun
menjelang, anak-anak Kampung Aur ini pun segera pulang, untuk menyambut malam
pertama Shalat Tarawih.
“Oh… Mariam Tomboy Mak Inang, Si Japang Mati…” terdengar lagi lagu,
yang dinyanyikan ramai-ramai, menuju rumah.
Kampung Aur bertetangga dengan Jalan Badur dan merupakan satu kecamatan,
yakni Kecamatan Medan Maimun, namun beda kelurahan. Kampung Aur terletak di
Kelurahan Aur dan Jalan Badur terletak di Kelurahan Hamdan, yang memisahkan
keduanya adalah Sungai Deli.
Konon dulu, semua tetangga Kampung Aur, seperti, Gang Meriam,
Pantai Burung, Jalan Badur dan Jalan Mangkubumi, selalu mendapat intimidasi
dari anak-anak Kampung Aur. Jika sudah mendengar nama Kampung Aur, para
tetangganya selalu ciut dan takut, karena keberanian dan kenekadan anak-anak
Kampung Aur, yang memang terkenal nakal dan beringas. Bahkan daerah luar pun
sempat ‘keder’ mendengar nama Kampung Aur.
Lagu Mariam Tomboy, adalah plesetan nama seorang cewek bernama
Mariam yang memang tomboy, tinggal di Jalan Badur, yang setiap hari mandi di
tepian sungai selalu memakai pakaian basah, tembus pandang. sedangkan Mak Inang
adalah sosok ‘omak-omak’ Kampung Aur, yang selalu cerewet dan ditakuti
anak-anak. Lalu nama Si Japang, adalah nama orang tua Jalan Badur, yang
mempunyai anak yang bermacam tingkah, sehingga kerap nama bapaknya
disebut-sebut. Semuanya, Maaf Ya…!
Saat malam tiba, selesai Shalat Tarawih di Masjid Jami’ Kampung
Aur, puluhan anak-anak usia 9 sampai 13 tahun berhamburan keluar masjid. Mereka
menuju ke kolong jembatan HVA. Sejumlah anak-anak rupanya sudah memulai
permainan Meriam Bambu-nya. Suara letupan dari meriam bambu itu cukup
memekakkan telinga, ada juga meriam bambu yang masuk angin, sehingga suara
letupannya terdengar seperti kentut, "Pussshhh".
Anak-anak Jalan Badur juga sudah memulai ‘pertempuran’. Suara
teriakan, letupan meriam, ledakan mercon bercampur dengan deru kendaraan yang
lalu lalang dari atas jembatan sana, sehingga terdengar riuh meriah. Anak-anak
seberang kerap menggunakan lumpur sebagai senjatanya yang ditembakkan dari
meriam bambu menuju sasarannya.
Pertempuran memasuki tahap yang memanas, anak-anak Kampung Aur,
tidak kalah sengit membalas setiap tembakan meriam bambu yang ditembakkan dari
anak-anak Jalan Badur. Jarak antara kedua belah pihak sekitar 20 meter.
Agar pertempuran ini kami, meriam bambu terlebih dahulu di
service, lubang pemicu digosok-gosok, diisi minyak tanah, lalu lubangnya
dibakar. Begitu seterusnya sampai suaranya benar-benar terdengar dahsyat. Jika
anak-anak Jalan Badur mampu menembakkan lumpur sampai bibir sungai saja, maka
anak-anak Kampung Aur mampu menghujani lumpur ke badan anak-anak sebarang sana.
Tetapi, lumpur terlalu berat untuk ditembakkan, dan dampaknya
tidak terlalu besar. Anak-anak Kampung Aur mulai mencari akal, bagaimana agar
‘musuh’ bisa kalah. Maka ditemukan suatu ide cemerlang tapi menjijikkan, yakni,
kotoran manusia yang hanyut sebagai pelurunya.
“Dian, kau tampung taik
kau,” perintah Rustam kepada Dian yang kebetulan sedang buang air besar. Aku
bersiap di belakang meriam, tongkat obor siap dinyalakan dan siap meletupkan
meriam bambu itu.
Bergegas Dian menangkap kotorannya itu dan dimasukkan ke dalam
plastic kresek, lalu 'Taik' itu dimasukkan ke dalam mulut meriam, aku siap
menyulutkan api di dalam lubang kecil di pantat meriam. Begitu disulut,
"Duarrr...," suara menggelegar keluar dengan dahsyatnya,
disertai dengan muncratnya kotoran manusia tadi. Jauh ke sebarang sungai dan
tepat mengenai sasaran.
Sejumlah anak-anak Jalan Badur berhamburan terjun ke dalam sungai,
muka dan badan mereka berlepotan kotoran Si Dian. Anak-anak Jalan Badur itu
mencak-mencak sambil mengeluarkan kata-kata kotor. Tetapi tembakan meriam
berisi kotoran manusia terus ditembakkan sehingga anak-anak Jalan Badur kabur
meninggalkan meriamnya.
Nyanyian kemenangan pun terdengar. “Oh… Mariam Tomboy Mak Inang,
Si Japang Mati...! Oh… Mariam Tomboy Mak Inang, Si Japang Mati...! Oh… Mariam
Tomboy Mak Inang, Si Japang Mati...” Rampasan perang pun berhasil kami peroleh. (dp)
No comments:
Post a Comment