Friday, March 29, 2013

"Beranyut Itu Menyenangkan" (bag. 1)


Donny Philli

MALAM dinihari, air Sungai Deli sedang naik, namun tidak terlalu tinggi. Halaman masjid saja masih jauh digapainya, apalagi dibibir sungai. Kali ini banjirnya hanya sekitar sungai, cukup menenggelamkan seluruh badan, berwarna kuning, deras dan banyak sampah. Menjelang subuh itu, orang-orang terjaga mengantisipasi masuknya air ke rumah.

Aku sangat senang kalau air sungainya banjir tanggung seperti ini, begitu juga dengan kawan-kawan. Banyak yang bisa kami lakukan dengan air banjir itu. Misalnya terjun ke sungai dari atas jembatan HVA Jalan Letjend Soeprapto. atau juga bermain selancar pakai tali yang diikat dibawah jembatan dan yang lebih menantang beranyut dari hulu sungai. Kali ini kami putuskan untuk beranyut.

Pukul 8.00 pagi, aku dan kawan-kawan sudah berkumpul di halaman masjid, rencananya kami akan beranyut dari kawasan Desa Pamah, Delitua, Kab. Deliserdang, tempat hulunya Sungai Deli. Dengan modal ban dalam truk atau mobil yang bekas sebagai perahunya, kami telah siapkan, jumlahnya ada enam buah. Setelah semua berkumpul lalu kami langsung berangkat ke tujuan. Tak lupa minuman dan makanan ringan untuk mengemil selama dalam perjalanan diatas ban yang terbawa arus juga disiapkan.

Di simpang Waspada, Jalan B Katamso, kami menunggu bus Povri yang akan membawa kami ke tujuan. Tanpa menunggu lama, bus dimaksud datang dan kami langsung menaiki bus itu. Kernek ikut membantu menaikkan ban-ban ke atas atap bus itu. Sedangkan kami seluruhnya berdiri, ada yang bergelantungan di pintu, karena bus angkutan kebanggaan warga Kecamatan Delitua itu lagi penuh, mengangkut para warganya yang kebanyakan bekerja di Medan, atau belanja di Pasar Sambu.

Ongkos naik bus ini sebesar Rp 150 perpenumpang, bus ini juga melaju sangat kencang, karena saat itu jumlah kendaraan tak sebanyak sekarang. Bus mengambil rute dari Terminal Pusat Pasar (Sambu) melewati Jalan Brigjend Katamso menuju Jalan Brigjend Zein Hamid Titi Kuning, dan mentok di Terminal Pasar Deli Tua.

Tidak tahu berapa kapasitas angkut bus ini, sebab tidak ada sedikit pun celah di dalamnya. Yang duduk pun dipadat-padatkan, apalagi yang berdiri, saling merapatkan badan, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak sampai orangtua. Yang cantik, yang jelek, yang kenyal, yang lembek dan yang keras, saling merasakan.

Namun tidak ada yang merasa keberatan, merasa dizholimi. Yang muhrim, yang bukan muhrim, tak ada cerita, karena semuanya berbagi kehangatan, gerah, bau ketek, bau jengkol dan sesak, bercampur dengan bawaan penumpang, ada ikan basah, sayur mayur sampai keranjang sampah. Dengan keunikan bus Povri inilah kami menyebutnya "Boeing".

Dit tengah perjalanan, kernek bus meminta ongkos kepada para penumpang. "Ongkos... Ongkos... Ongkos...," seperti itulah kernek meminta ongkos kepada penumpang, tangan kiri kernek itu mengguncang-guncang recehan uang logam, sehingga menimbulkan suara gemerincing, Sang kernek, menerobos ditengah desakan penumpang dan mendatanginya satu persatu. Orang-orang semakin terjepit. Kami memberi uang Rp 100 perorang, namun sang kernek tidak protes, karena kami masih tergolong penumpang anak-anak.

Saat itu umur kami rata-rata 13 sampai 15 tahun. Aku, Rustam, Tito, Dian, Ison, Majid, Iwin, Idus, Alim, berumur 15 tahun, Raju 14 tahun dan yang paling muda Si Juni 13 tahun, yang masa pubertas kami sedang menggebu-gebunya.

Sampai Pajak (pasar) Delitua, para penumpang turun. Aku yang bergelantungan di pintu dari mulai naik hingga mentok di Pajak Delitua, langsung naik ke atap bus, melemparkan ban-ban kebawah yang disambut kawan-kawan. Setelah, semuanya turun dari Boeing, kami pun berjalan kaki menuju ke hulu Sungai Deli, yang ditempuh dalam perjalanan sepanjang 300 meter.

Dibibir hulu Sungai Deli itu, kami istirahat sejenak. Sejumlah anak sekolah berpakaian SMA tampak sedang bermain-main dibibir sungai lainnya. Mereka berpasang-pasangan, tertawa dan berbasah-basahan. Perhatianku dan kawan-kawan tertuju ke sejumlah anak sekolah itu. Bermacam-macam komentar yang kami ucapkan, hingga ke hal-hal yang jorok.

Tak lama, kami pun segera memasuki air sungai. Di hulu sungai ini air tidak begitu tinggi, sehingga kami bisa berjalan dan berdiri ditengah-tengahnya. Satu persatu kami mulai menduduki ban, lalu membiarkan air membawa kami hanyut ke hilir, menuju Kampung Aur yang berjarak, mungkin 30 kilometer atau lebih. Hembusan angin meniup tubuh kami. Muilai terasa dingin di tubuh yang basah ini.

Kasihan yang tidak memiliki ban, dia terpaksa menumpang duduk berdua. Nantinya dia akan mencari batang-batang pisang yang tersangkut atau hanyut disepanjang di sungai. Bagi yang kreatif, batang-batang pisang itu dikumpulkan dan diikat dijadikan satu menjadi rakit. Selain lihai berenang, anak-anak Kampung Aur sangat lihai membuat rakit.
     
Lubuk Kuali

Disepanjang jalan, yang terlihat hanyalah hutan-hutan pohon pisang, sedikit pohon Seri, Mahoni dan Beringin. Semak-semak ilalang tumbuh subur di sepanjang bibir sungai. Perjalanan masih jauh, tapi badan mulai menggigil kedinginan. Satu jam perjalanan beranyut belum juga ditemukan adanya perkampungan, ini masih kawasan Delitua. Alur sungai yang berkelok-kelok membuat perjalanan ini lambat. Sementara suara-suara burung berkicau memecah kesunyian. Penghuni sungai lainnya, seperti ular, biawak dan ikan tak terlalu senang dengan kehadiran kami, sehingga binatang liar itu jarang ditemukan.

Sebuah lubuk menghadang didepan, bentuknya luas dan bulat, airnya tenang berputar membentuk kawah kuali. Konon di Lubuk Kuali ini banyak orang yang hilang tersedot ke dalam air dan tak pernah muncul. Tidak ada yang tahu berapa kedalaman Lubuk Kuali ini, namun kami tetap melanjutkan perjalanan, mencoba melewati lubuk yang terkenal angker. Mendekati Lubuk Kuali, kami berkumpul, membentuk formasi pertahanan. Yang pakai ban dan rakit batang pisang merapat. Dan dengan tenang kami memasuki Lubuk Kwali, membiarkan kami terbawa pusaran air. Tenang sekali, sunyi dan cemas.

"Jangan ada yang bergerak, tenang saja," seruku kepada kawan-kawan. Hampir 10 menit, dan akhirnya kami berhasil keluar dari perangkap mematikan itu dan kembali membiarkan diri hanyut mengikuti arus Sungai Deli ke hilir. Hati pun lega, nyanyian-nyanyian lagu Isabella, Suci Dalam Debu dan lagu-lagu slow rock Malaysia lainnya, mulai dinyanyikan satu persatu yang diikuti oleh seluruh kawan-kawan, sebagai luapan menenangkan kembali perasaan takut di Lubuk Kuali tadi… 

No comments:

Post a Comment