Donny Philli
MALAM dinihari, air Sungai Deli sedang naik, namun tidak terlalu tinggi. Halaman masjid saja masih jauh digapainya, apalagi dibibir sungai. Kali ini banjirnya hanya sekitar sungai, cukup menenggelamkan seluruh badan, berwarna kuning, deras dan banyak sampah. Menjelang subuh itu, orang-orang terjaga mengantisipasi masuknya air ke rumah.
Aku sangat senang kalau air sungainya banjir tanggung seperti ini,
begitu juga dengan kawan-kawan. Banyak yang bisa kami lakukan dengan air banjir
itu. Misalnya terjun ke sungai dari atas jembatan HVA Jalan Letjend Soeprapto. atau
juga bermain selancar pakai tali yang diikat dibawah jembatan dan yang lebih
menantang beranyut dari hulu sungai. Kali ini kami putuskan untuk beranyut.
Pukul 8.00 pagi, aku dan kawan-kawan sudah berkumpul di halaman
masjid, rencananya kami akan beranyut dari kawasan Desa Pamah, Delitua, Kab.
Deliserdang, tempat hulunya Sungai Deli. Dengan modal ban dalam truk atau mobil
yang bekas sebagai perahunya, kami telah siapkan, jumlahnya ada enam buah.
Setelah semua berkumpul lalu kami langsung berangkat ke tujuan. Tak lupa
minuman dan makanan ringan untuk mengemil selama dalam perjalanan diatas ban
yang terbawa arus juga disiapkan.
Di simpang Waspada, Jalan B Katamso, kami menunggu bus Povri yang
akan membawa kami ke tujuan. Tanpa menunggu lama, bus dimaksud datang dan kami
langsung menaiki bus itu. Kernek ikut membantu menaikkan ban-ban ke atas atap
bus itu. Sedangkan kami seluruhnya berdiri, ada yang bergelantungan di pintu,
karena bus angkutan kebanggaan warga Kecamatan Delitua itu lagi penuh,
mengangkut para warganya yang kebanyakan bekerja di Medan, atau belanja di
Pasar Sambu.
Ongkos naik bus ini sebesar Rp 150 perpenumpang, bus ini juga
melaju sangat kencang, karena saat itu jumlah kendaraan tak sebanyak sekarang.
Bus mengambil rute dari Terminal Pusat Pasar (Sambu) melewati Jalan Brigjend
Katamso menuju Jalan Brigjend Zein Hamid Titi Kuning, dan mentok di Terminal
Pasar Deli Tua.
Tidak tahu berapa kapasitas angkut bus ini, sebab tidak ada
sedikit pun celah di dalamnya. Yang duduk pun dipadat-padatkan, apalagi yang
berdiri, saling merapatkan badan, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak
sampai orangtua. Yang cantik, yang jelek, yang kenyal, yang lembek dan yang
keras, saling merasakan.
Namun tidak ada yang merasa keberatan, merasa dizholimi. Yang
muhrim, yang bukan muhrim, tak ada cerita, karena semuanya berbagi kehangatan,
gerah, bau ketek, bau jengkol dan sesak, bercampur dengan bawaan penumpang, ada
ikan basah, sayur mayur sampai keranjang sampah. Dengan keunikan bus Povri
inilah kami menyebutnya "Boeing".
Dit tengah perjalanan, kernek bus meminta ongkos kepada para
penumpang. "Ongkos... Ongkos... Ongkos...," seperti itulah kernek
meminta ongkos kepada penumpang, tangan kiri kernek itu mengguncang-guncang
recehan uang logam, sehingga menimbulkan suara gemerincing, Sang kernek, menerobos
ditengah desakan penumpang dan mendatanginya satu persatu. Orang-orang semakin
terjepit. Kami memberi uang Rp 100 perorang, namun sang kernek tidak protes,
karena kami masih tergolong penumpang anak-anak.
Saat itu umur kami rata-rata 13 sampai 15 tahun. Aku, Rustam,
Tito, Dian, Ison, Majid, Iwin, Idus, Alim, berumur 15 tahun, Raju 14 tahun dan
yang paling muda Si Juni 13 tahun, yang masa pubertas kami sedang
menggebu-gebunya.
Sampai Pajak (pasar) Delitua, para penumpang turun. Aku yang
bergelantungan di pintu dari mulai naik hingga mentok di Pajak Delitua,
langsung naik ke atap bus, melemparkan ban-ban kebawah yang disambut
kawan-kawan. Setelah, semuanya turun dari Boeing, kami pun berjalan kaki menuju
ke hulu Sungai Deli, yang ditempuh dalam perjalanan sepanjang 300 meter.
Dibibir hulu Sungai Deli itu, kami istirahat sejenak. Sejumlah
anak sekolah berpakaian SMA tampak sedang bermain-main dibibir sungai lainnya.
Mereka berpasang-pasangan, tertawa dan berbasah-basahan. Perhatianku dan
kawan-kawan tertuju ke sejumlah anak sekolah itu. Bermacam-macam komentar yang
kami ucapkan, hingga ke hal-hal yang jorok.
Tak lama, kami pun segera memasuki air sungai. Di hulu sungai ini
air tidak begitu tinggi, sehingga kami bisa berjalan dan berdiri
ditengah-tengahnya. Satu persatu kami mulai menduduki ban, lalu membiarkan air
membawa kami hanyut ke hilir, menuju Kampung Aur yang berjarak, mungkin 30
kilometer atau lebih. Hembusan angin meniup tubuh kami. Muilai terasa dingin di
tubuh yang basah ini.
Kasihan yang tidak memiliki ban, dia terpaksa menumpang duduk
berdua. Nantinya dia akan mencari batang-batang pisang yang tersangkut atau
hanyut disepanjang di sungai. Bagi yang kreatif, batang-batang pisang itu
dikumpulkan dan diikat dijadikan satu menjadi rakit. Selain lihai berenang,
anak-anak Kampung Aur sangat lihai membuat rakit.
Lubuk Kuali
Disepanjang jalan, yang terlihat hanyalah hutan-hutan pohon
pisang, sedikit pohon Seri, Mahoni dan Beringin. Semak-semak ilalang tumbuh
subur di sepanjang bibir sungai. Perjalanan masih jauh, tapi badan mulai
menggigil kedinginan. Satu jam perjalanan beranyut belum juga ditemukan adanya
perkampungan, ini masih kawasan Delitua. Alur sungai yang berkelok-kelok
membuat perjalanan ini lambat. Sementara suara-suara burung berkicau memecah
kesunyian. Penghuni sungai lainnya, seperti ular, biawak dan ikan tak terlalu
senang dengan kehadiran kami, sehingga binatang liar itu jarang ditemukan.
Sebuah lubuk menghadang didepan, bentuknya luas dan bulat, airnya
tenang berputar membentuk kawah kuali. Konon di Lubuk Kuali ini banyak orang
yang hilang tersedot ke dalam air dan tak pernah muncul. Tidak ada yang tahu
berapa kedalaman Lubuk Kuali ini, namun kami tetap melanjutkan perjalanan,
mencoba melewati lubuk yang terkenal angker. Mendekati Lubuk Kuali, kami
berkumpul, membentuk formasi pertahanan. Yang pakai ban dan rakit batang pisang
merapat. Dan dengan tenang kami memasuki Lubuk Kwali, membiarkan kami terbawa
pusaran air. Tenang sekali, sunyi dan cemas.
"Jangan ada yang bergerak, tenang saja," seruku kepada
kawan-kawan. Hampir 10 menit, dan akhirnya kami berhasil keluar dari perangkap mematikan
itu dan kembali membiarkan diri hanyut mengikuti arus Sungai Deli ke hilir.
Hati pun lega, nyanyian-nyanyian lagu Isabella, Suci Dalam Debu dan lagu-lagu
slow rock Malaysia lainnya, mulai dinyanyikan satu persatu yang diikuti oleh
seluruh kawan-kawan, sebagai luapan menenangkan kembali perasaan takut di Lubuk
Kuali tadi…
No comments:
Post a Comment