Friday, March 29, 2013

"Alep Berondok"


Donny Philli

GILIRAN Ipul jaga, karena Dian berhasil menangkapnya pertama kali, berikut setelah tertangkapnya kawan-kawan yang lain. Ipul pun memulai menghitung dari 1 sampai 10, matanya ditutup dengan kedua lengannya dan menghadap ke dinding Masjid Jami' Kampung Aur.

"1... 2... 3... 4... 5... dan seterusnya sampai 10." Para pemain, Aku, Dian, Raju, Tito, Rustam, Majid, Ison, Iwin dan Rudy, mulai berhamburan mencari tempat persembunyian yang aman. Ada yang dibawah kolong rumah, di bawah meja jualan, hingga berondok di semak-semak pohon bambu di pinggir Sungai Deli, di malam yang gelap. Dedaunan bambu menari-nari diantara cahaya bulan, di Juni 1987.

Usai menghitung, Ipul melihat tak ada seorang pun, semuanya bersembunyi. Dengan menggunakan punggung tangan, dia mengusap matanya berkali-kali. Tatapan matanya liar, menyisir setiap sudut halaman masjid tersebut. Kepalanya terus bergerak, ke kiri dan ke kanan, mengawasi setiap pergerakan yang mencurigai.

Di balik meja jualan Tek Mar, Ipul melihat ada sosok kepala yang menyembul, samar dan tak teridentifikasi. Dengan yakin, didatanginya tempat itu sambil tubuhnya berputar-putar mengawasi setiap pergerakkan yang muncul tiba-tiba, matanya liar namun terfokus pada sosok di balik meja jualan punya Tek Mar itu.

Tiba-tiba sosok dibalik meja itu berkelebat cepat, berlari ke arah Ipul menuju dinding masjid sebagai tempat locaknya, agar dapat disentuhnya. Akan tetapi jarak Ipul lebih dekat dengan dinding masjid itu. Dan dengan refleks, Ipul pun cepat membalikkan badan, berlari menuju sarangnya.
"Titooo... Tiiinn...," teriak Ipul sambil menyentuh dinding tersebut. Tito pun pasrah, dia lalu terduduk lemas di batu teras masjid, nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran. Begitu juga dengan Ipul.

Satu persatu teman yang lain tertangkap. Dian dan Raju tertangkap saat akan menyerbu dengan memakai penutup kain sarung. Majid dibalik dinding masjid. Ison, Iwin dan Rudy tertangkap di bawah kolong rumah orang. Dan tinggal aku dengan Rustam yang belum tertangkap.

Kami berdua sedang berondok di atas loteng (lantai 2) rumah Mak Inong, sambil asyik menikmati tayangan televisi, bersama pemilik rumah dan sejumlah tetangga. Konon, saat itu televisi masih langkah.  Hanya beberapa rumah saja yang ada, sehingga banyak tetangga yang menumpang menonton televisi di rumah orang.

Sesekali Rustam mengintip dari balik jendela, melihat kearah dinding masjid yang dijaga Ipul. Kawan-kawan yang tertangkap duduk dibatu teras masjid. Mereka terlihat gelisah berharap agar kami melepaskan mereka.

"Udah, yok, kita bikin locak dia," ajak Rustam padaku. Lalu kami turun dari loteng rumah itu, mengendap-endap, dan memasang strategi untuk bikin Ipul locak supaya jaga lagi.

Siasat pun digelar, kami berdua berpencar, Aku di sebelah kiri, Rustam sebelah kanan, menunggu saat yang tepat untuk menyentuh dinding masjid yang dijaga Ipul. Aku lihat Rustam berondok di bawah kolong rumah, sedangkan aku berondok di balik pohon bambu pinggir parit besar.

Rustam sengaja mencari perhatian dengan pura-pura batuk. Tito yang tertangkap mengetahui siasat kami, lalu ia sengaja mengangeki (memanas -manasi) Ipul.

"Aku tahu dimana orang itu...?" angek Tito. Ipul pun merespon lebih waspada, matanya kali ini lebih liar, tubuhnya berputar-putar mengawasi sekeliling. Asal suara batuk Rustam pun diketahuinya tetapi dia ragu siapa pemilik suara batuk itu.

Lalu Ipul mencoba mendekati kolong rumah itu, dilihatnya sebagian kepala menyembul samar-samar, namun sosok itu tetap diam. Begitu ingin memastikan lebih dekat, tiba-tiba Rustam keluar, berlari ke arah dinding masjid. Ipul pun berusaha berlari lebih cepat. Adu kecepatan terjadi, mereka saling berlomba mencapai dinding masjid. Namun Ipul lebih cepat dari Rustam. Tetapi...? Ipul tak lebih cepat dariku.

Ipul lemas seketika, ketika dia melihat aku sudah berdiri di dinding masjid dengan tangan kiri menyentuh dinding itu dan tangan kanan berkacak pinggang. "Tiiinnn...," teriak ku. Kawan-kawan tertawa gembira sambil mengejek.

"Ipul locak... Ipul locak... Ipul locak...,"

Hati Ipul pun panas, di merajuk tak mau jaga lagi. Air matanya bercucuran, ia menangis sambil pulang ke rumah. Ejekan pun berhenti bersamaan menghilangnya dirinya.... (dp)

No comments:

Post a Comment