Friday, March 29, 2013

"Cambuk Pak Sagir"


Rustam Effendie

SHALAT Tarawih 23 rakaat baru saja selesai. Pak Sagir, penjaga Masjid Jami' Kampung Aur mulai menutup pintu masjid satu persatu. Lampu dimatikan. Hanya bagian Saf laki-laki saja yang masih dihidupkan, karena beberapa jemaah, terdiri dari kaum ibu, kaum bapak dan remaja masjid sedang tadarus, membaca ayat-ayat suci Al Quran.

Sejumlah anak-anak tampak bermain-main di sekitar halaman belakang masjid. Bermain mercon dan kembang api. Suara ribut membahana hingga ke dalam masjid membuat Pak Sagir marah. Suara lecutan cambuknya terdengar bak petir mengalahkan suara mercon. Anak-anak yang mendengarnya langsung kabur, takut terkena sambaran cambuk orang tua berusia hampir 70 tahun itu.

Aku selalu teringat saat Pak Sagir marah. Dia selalu membawa cambuknya kemana pun dia pergi. Cambuk itu panjangnya dua meter, sangat terkenal dan sangat ditakuti anak-anak masa itu. Aku pernah terkena cambuk Pak Sagir, saat sedang ribut bersama kawan-kawan ketika sedang shalat tarawih pada bulan Ramadhan.

Di lantai dua masjid yang terbuat dari papan itu, anak-anak dikhususkan shalat tarawih di lantai dua, karena di lantai satu sudah terisi penuh. Maklumlah, di awal-awal bulan Ramadhan saja masjid penuh, tapi ketika memasuki minggu kedua, barulah agak longgar di lantai satu.
Saat bilal sedang membaca doa shalawat menjelang rakaat shalat tarawih, kami selalu memplesetkan jawabannya.

"Allahumashalli wa shalim ala Syaidina Muhammaaad....," ucap bilal mendayu-dayu, yang diikuti oleh para jamaah dengan menjawab "Allahumashalli wa shalim wa laiiik..." dan kami malah menjawab "Allooooo.... Pak Sageeerrr....".

Dari belakang tiba-tiba Pak Sagir melecut kami dengan cambuknya. Yang terkena cambuk sakitnya luar biasa. Bagi yang tidak tahan menahan rasa sakit langsung menangis. Pak Sagir terus mengejar kami yang berhamburan turun dari lantai dua sambil mengejek Pak Sagir. Suara gaduh dari lantai dua membuat para jemaah dibawahnya ikut memarahi kami.

Meskipun telah Almarhum, Pak Sagir dengan cambuknya selalu kami ingat. Setiap bulan Ramadhan, kami selalu bercerita tentang Pak Sagir sambil tertawa-tawa lucu. Mengenang masa lalu...***
     
(Tulisan ini juga kami dedikasikan untuk Almarhum Pak Sagir, yang telah membuat kami mengerti tentang shalat yang benar)

No comments:

Post a Comment