Rustam Effendie
SHALAT Tarawih 23 rakaat
baru saja selesai. Pak Sagir, penjaga Masjid Jami' Kampung Aur mulai menutup
pintu masjid satu persatu. Lampu dimatikan. Hanya bagian Saf laki-laki saja
yang masih dihidupkan, karena beberapa jemaah, terdiri dari kaum ibu, kaum bapak
dan remaja masjid sedang tadarus, membaca ayat-ayat suci Al Quran.
Sejumlah anak-anak tampak bermain-main di
sekitar halaman belakang masjid. Bermain mercon dan kembang api. Suara ribut
membahana hingga ke dalam masjid membuat Pak Sagir marah. Suara lecutan
cambuknya terdengar bak petir mengalahkan suara mercon. Anak-anak yang
mendengarnya langsung kabur, takut terkena sambaran cambuk orang tua berusia
hampir 70 tahun itu.
Aku selalu teringat saat Pak Sagir marah. Dia
selalu membawa cambuknya kemana pun dia pergi. Cambuk itu panjangnya dua meter,
sangat terkenal dan sangat ditakuti anak-anak masa itu. Aku pernah terkena
cambuk Pak Sagir, saat sedang ribut bersama kawan-kawan ketika sedang shalat
tarawih pada bulan Ramadhan.
Di lantai dua masjid yang terbuat dari papan
itu, anak-anak dikhususkan shalat tarawih di lantai dua, karena di lantai satu
sudah terisi penuh. Maklumlah, di awal-awal bulan Ramadhan saja masjid penuh, tapi
ketika memasuki minggu kedua, barulah agak longgar di lantai satu.
"Allahumashalli wa shalim ala Syaidina
Muhammaaad....," ucap bilal mendayu-dayu, yang diikuti oleh para jamaah
dengan menjawab "Allahumashalli wa shalim wa laiiik..." dan kami
malah menjawab "Allooooo.... Pak Sageeerrr....".
Dari belakang tiba-tiba Pak Sagir melecut kami
dengan cambuknya. Yang terkena cambuk sakitnya luar biasa. Bagi yang tidak
tahan menahan rasa sakit langsung menangis. Pak Sagir terus mengejar kami yang
berhamburan turun dari lantai dua sambil mengejek Pak Sagir. Suara gaduh dari
lantai dua membuat para jemaah dibawahnya ikut memarahi kami.
Meskipun telah Almarhum, Pak Sagir dengan
cambuknya selalu kami ingat. Setiap bulan Ramadhan, kami selalu bercerita
tentang Pak Sagir sambil tertawa-tawa lucu. Mengenang masa lalu...***
(Tulisan ini juga kami dedikasikan untuk Almarhum Pak Sagir, yang telah membuat kami mengerti tentang shalat yang benar)
No comments:
Post a Comment